Design Home Theater

s1

Penataan Loudspeakers pada Ruang Dengar Kritis

Salah satu faktor penting dalam perencanaan Ruang Dengar Kritis (Critical Listening Room) seperti Home Theater, adalah sistem penataan Loudspeakers. Semua sistem tata suara untuk ruangan-ruangan tersebut yang saat ini available di pasar Indonesia pada dasarnya bekerja dengan konsep single sweetspot, alias titik terbagus untuk mendengarkan medan suaranya hanya terletak di 1 posisi saja.
Untuk Sistem Stereo, posisi optimum pemasangan Loudspeaker harus mengikuti kaidah segitiga sama sisi, seperti dapat dilihat di Gambar berikut. Apabila sudut lebih besar dari 60 derajat, maka akan mengakibatkan terjadinya efek “Hole in the Middle” alias “phantom image” yang terjadi tidak stabil. Sedangkan sudut lebih kecil dari 60 derajat, akan mengakibatkan efek stereo yang sempit.

(c) D.M. Howard & J.A. Angus, “Acoustics and Psychoacoustics”, 4ed.

Untuk sistem Multi channels yang lain misalnya sistem 5.1, penataan yang optmimum seperti pada Gambar berikut. Karena sistem ini pada umumnya digunakan untuk mendengarkan musik dan melihat film atau video, target desainnya adalah mendapatkan kesetimbangan kualitas antara speech dan music.Center Loudspeaker pada umumnya digunakan untuk menghasilkan speech intelligibility. Posisinya yang berada di titik phantom image loudspeaker stereo menyebabkan dialog dipresentasikan dalam kondisi mono. (Secara psikologis tidak mengganggu, karena kesan suara akan datang dari arah layar). Rear Loudspeakersmenghasilkan diffuse sound field yang pada umumnya digunakan untuk menghasilkan efek-efek yang diinginkan atau memberikan ambient sound dalam menikmati film atau live music. Low Frequency Loudspeaker (Subwoofer), digunakan untuk memproduksi suara-suara dalam nada super rendah (misalnya suara ledakan dan efek2 yang lain). Loudspeaker terakhir ini pada dasarnya bisa ditempatkan dimana saja dalam ruangan.

(c) D.M. Howard & J. A. Angus, “Acoustics & Psychoacoustics”, 4 ed.

Mengendalikan Medan Suara dalam Ruangan

Secara garis besar, permasalahan akustik dalam ruangan dapat dibagi menjadi 2 bagian, yaitu pengendalian medan suara dalam ruangan (sound field control) dan pengendalian intrusi suara dari/ke ruangan (noise control). Pengendalian medan suara dalam ruang akan sangat tergantung pada fungsi utama ruangan tersebut. Ruang yang digunakan untuk fungsi percakapan saja, akan berbeda dengan ruang yang digunakan untuk mengakomodasi aktifitas terkait musik, serta akan berbeda pula dengan ruang yang digunakan untuk kegiatan yang melibatkan percakapan dan musik.
Pengendalian medan suara dalam ruang (tertutup), pada dasarnya dilakukan untuk mengatur karakteristik pemantulan gelombang suara yang dihasilkan oleh permukaan dalam ruang, baik itu dari dinding, langit-langit, maupun lantai. Ada 3 elemen utama yang dapat digunakan untuk mengatur karakteristik pemantulan ini yaitu:

1. Elemen Pemantul (Reflector)

Elemen ini pada umumnya digunakan apabila ruang memerlukan pemantulan gelombang suara pada arah tertentu. Ciri utama elemen ini adalah secara fisik permukaannya keras dan arah pemantulannya spekular (mengikuti kaidah hukum Snellius: sudut pantul sama dengan sudut datang).

2. Elemen Penyerap (Absorber)

Elemen ini digunakan apabila ada keinginan untuk mengurangi energi suara di dalam ruangan, atau dengan kata lain apabila tidak diinginkan adanya energi suara yang dikembalikan ke ruang secara berlebihan. Efek penggunaan elemen ini adalah berkurangnya Waktu Dengung ruang (reverberation time). Ciri utama elemen ini adalah secara fisik permukaannya lunak/berpori atau keras tetapi memiliki bukaan (lubang) yang menghubungkan udara dalam ruang dengan material lunak/berpori dibalik bukaannya, dan mengambil banyak energi gelombang suara yang datang ke permukaannya. Khusus untuk frekuensi rendah, elemen ini dapat berupa pelat tipis dengan ruang udara atau bahan lunak dibelakangnya.

3. Elemen Penyebar (Diffusor)

Elemen ini diperlukan apabila tidak diinginkan adanya pemantulan spekular atau bila diinginkan energi yang datang ke permukaan disebarkan secara merata atau acak atau dengan pola tertentu, dalam level di masing-masing arah yang lebih kecil dari pantulan spekularnya. Ciri utama elemen ini adalah permukaannya yang secara akustik tidak rata. Ketidakrataan ini secara fisik dapat berupa permukaan yang tidak rata (beda kedalaman, kekasaran acak, dsb) maupun permukaan yang secara fisik rata tetapi tersusun dari karakter permukaan yang berbeda beda (dalam formasi teratur ataupun acak). Energi gelombang suara yang datang ke permukaan ini akan dipantulkan secara no spekular dan menyebar (level energi terbagi ke berbagai arah). Elemen ini juga memiliki karakteristik penyerapan.

Pada ruang (akustik) riil, 3 elemen tersebut pada umumnya dijumpai. Komposisi luasan per elemen pada permukaan dalam ruang akan menentukan kondisi medan suara ruang tersebut. Bila Elemen pemantulan menutup 100 % permukaan, ruang tersebut disebut ruang dengung (karena seluruh energi suara dipantulkan kembali ke dalam ruangan). Medan suara yang terjadi adalah medan suara dengung. Sebaliknya, apabila seluruh permukaan dalam tertutup oleh elemen penyerap, ruang tersebut menjadi ruang tanpa pantulan (anechoic), karena sebagian besar energi suara yang datang ke permukaan diserap oleh elemen ini. Medan suara yang terjadi disebut medan suara langsung. Medan suara ruang selain kedua ruang itu dapat diciptakan dengan mengatur luasan setiap elemen, sesuai dengan fungsi ruang.

Untuk pemakaian pengendalian medan suara dalam ruang yang lebih detail, sebuah elemen bisa dirancang sekaligus memiliki fungsi gabungan 2 atau 3 elemen tersebut. Misalnya gabungan Penyerap dan Penyebar dikenal dengan elemen Abfussor atau Diffsorbor, gabungan antara pemantul dan penyebar, dsb. Pola pemantulan 3 elemen tersebut merupakan fungsi dari frekuensi gelombang suara yang datang kepadanya.

Design Home Theater

3-nice-black-home-theater-design

101

1007listen-2

2180344661_a039092ab1 a1

a2 aq

az

de

design-home-theater-91-700x466

ds

ed

 

eq1

eq2

eq3

eq4

front

gh

hhhhhhh

hm

n103

n104

n105

plad

project-kemang

q1 q2

q4

q5

q6

qa

qw

qww

r1

r2 r3

rfd

rt

s1

s2

treeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee

v1_r1_e_l

v1_r2_e

v2_r1_e_l

v2_r2_e

v3_r2_e

view-1-rev-1_e_l

view-1a_e_l

view-2-rev-1_e_l

view-2a_e_l

view-3a_e_l